Catatan Akhir: Kritisisme atas Borjuasi
Dalam zaman permulaan sejarah, hampir di mana saja kita dapati suatu susunan rumit dari masyarakat yang terbagi menjadi berbagai golongan, menjadi banyak tingkatan kedudukan sosial. Di Jaman Plato munculah golongan emas, perak dan besi. Emas terdiri dari para bangsawan, perak terdiri dari para penjaga, dan besi terdiri dari petani dan pekerja. Di Roma purba terdapat kaum patrisir, kaum ksatria, kaum plebejer, kaum budak. Dalam Zaman Tengah, muncullah kaum tuan feodal, kaum vasal, kaum tukang-ahli, kaum tukang-pembantu, kaum malang , kaum hamba; di dalam hampir semua kelas ini terdapat lagi tingkatan-tingkatan bawahan.
Masyarakat borjuis modern yang timbul dari runtuhan masyarakat feodal tidak menghilangkan pertentangan- pertentangan kelas. Ia hanya menciptakan kelas-kelas baru, syarat-syarat penindasan baru, bentuk-bentuk perjuangan baru sebagai ganti yang lampau.
Tetapi zaman kita, zaman borjuasi, mempunyai sifat yang istimewa. Ia telah menyederhanakan pertentangan- pertentangan kelas. Masyarakat seluruhnya semakin lama semakin terpecah menjadi dua golongan besar yang langsung berhadapan satu dengan yang lain – borjuasi dan proletariat.
Oleh sebab itu tahulah kita, bagaimana borjuasi modern itu sendiri adalah hasil dari perjalanan perkembangan yang lama, dari suatu rangkaian revolusi-revolusi dalam cara produksi dan cara pertukaran.
Tiap langkah dalam perkembangan borjuasi diikuti oleh suatu kemajuan politik yang sesuai dari kelas itu. Suatu kelas tertindas di bawah kekuasaan bangsawan feodal, suatu perserikatan bersenjata dan memerintah sendiri dalam komune pada Zaman Tengah; di satu tempat berupa republik-kota yang merdeka (seperti di Italia dan Jerman), di lain tempat berupa, “pangkat ketiga” Wajib-pajak dalam monarki (seperti di Perancis), sesudah itu, dalam masa manufaktur yang sebenarnya, dengan mengabdi pada monarki setengah-feodal atau absolut sebagai kekuatan imbangan terhadap kaum bangsawan, dan dalam kenyataannya, batu dasar bagi monarki-monarki besar pada umumnya, maka pada akhirnya borjuasi, sejak berdirinya Industri Modern dan pasar dunia, telah merebut untuk dirinya sendiri segenap kekuasaan politik di dalam Negara konstitusionil modern. Badan eksekutif negara modern hanyalah merupakan sebuah komite untuk mengatur urusan-urusan bersama dari seluruh borjuasi.
Borjuasi, di dalam sejarah, telah memainkan peranan yang sangat revolusioner.
Borjuasi, di mana saja ia telah dapat memperoleh kekuasaan, telah mengakhiri semua hubungan feodal patriarkal pedesaan. Ia dengan tiada kenal kasihan telah merenggut putus pertalian-pertalian feodal yang beraneka ragam yang mengikat manusia pada “atasannya yang wajar”, dan tidak meninggalkan ikatan lain antar manusia dengan manusia selain daripada kepentingan sendiri semata-mata, selain daripada “pembayaran tunai” yang kejam. Ia telah menghanyutkan getaran yang paling suci dari damba keagamaan, dari gairah keksatriaan, dari sentimentalisme filistin, ke dalam air dingin perhitungan egois. Ia telah menjatukan harga diri dengan nilai-tukar, dan sebagai ganti dari kebebasan-kebebasan tak terhitung jumlahnya yang telah disahkan oleh undang-undang yang tak boleh dibatalkan itu, ia telah menetapkan satu-satunya kebebasan yang tidak berdasarkan akal – Perdagangan Bebas. Pendek kata, penghisapan yang diselimuti dengan ilusi-ilusi keagamaan dan politik digantikan olehnya dengan penghisapan yang terang-terangan, tak kenal malu, langsung, ganas.
Borjuasi telah menanggalkan anggapan mulia terhadap setiap jabatan yang selama ini dihormati dan dipuja dengan penuh ketaatan. Ia telah mengubah dokter, advokat, editor, chief editor, penyair, sarjana menjadi buruh-upahannya yang dia bayar.
Borjuasi telah merobek dengan kekerasan selubung perasaan kekeluargaan, dan telah memerosotkannya menjadi hubungan-uang belaka.
Borjuasi telah menyingkapkan bagaimana dapat terjadinya hal bahwa pertunjukan kekuatan secara kasar dalam Zaman Tengah, yang begitu dikagumi oleh kaum reaksioner itu, mendapatkan imbangannya yang wajar dan cocok berwujud kemalasan yang paling lamban. Dialah yang pertama-tama memperlihatkan apa yang dapat dihasilkan oleh kegiatan manusia. Ia telah melahirkan keajaiban-keajaiban yang jauh melampaui piramida-piramida Mesir, saluran-saluran air Roma dan katedral-katedral Gotik; ia telah melakukan ekspedisi-ekspedisi yang sangat berlainan dibanding dengan perpindahan- perpindahan bangsa-bangsa serta perang-perang salib di masa dahulu.
Borjuasi tidak dapat hidup tanpa senantiasa merevolusionerkan perkakas-perkakas produksi dan karenanya merevolusionerkan hubungan-hubungan produksi, dan dengan itu semuanya merevolusionerkan segenap hubungan dalam masyarakat. Sebaliknya, mempertahankan cara-cara produksi yang lama dalam bentuknya yang tidak berubah adalah syarat pertama untuk hidup bagi segala kelas industri yang terdahulu. Senantiasa merevolusionerkan produksi, kekacauan tiada putus-putusnya dalam segala syarat.sosial, ketiadaan kepastian serta kegelisahan yang abadi itu membedakan zaman borjuasi dengan semua zaman yang terdahulu. Segala hubungan yang telah ditetapkan dan beku serta berkarat, dengan rentetannya berupa prasangka-prasangka serta pendapat-pendapat kuno yang disegani, disapu bersih, segala yang dibentuk baru menjadi usang sebelum membatu. Segala yang padat hilang larut dalam udara, segala yang suci dinodai, dan pada akhirnya manusia terpaksa menghadapi dengan hati yang tenang syarat-syarat hidupnya yang sebenarnya, dan hubungan-hubunganny a dengan sesamanya.
Melalui penghisapannya atas pasar dunia borjuasi telah memberikan sifat kosmopolitan kepada produksi dan konsumsi di tiap-tiap negeri. Kaum reaksioner merasa sedih sekali karena borjuasi telah menarik dari bawah kaki industri bumi nasional tempat ia berdiri.
Suatu gerakan yang serupa sedang berlangsung di hadapan mata kepala kita sendiri. Masyarakat borjuis modern dengan hubungan-hubungan produksinya, hubungan-hubungan pertukaran, dan hubungan-hubungan miliknya, suatu masyarakat yang telah menjelmakan alat-alat produksi serta alat-alat pertukaran yang begitu raksasa, adalah seperti tukang sihir yang tidak dapat mengontrol lagi tenaga-tenaga dari alam gaib yang telah dipanggil olehnya dengan mantra-mantranya.
Proletariat adalah massa yang membusuk secara pasif. Syarat-syarat hidup masyarakat lama sudah dihancurkan di dalam syarat-syarat hidup proletariat. Proletar tidak mempunyai milik; hubungannya dengan isteri dan anak tidak ada lagi persamaannya dengan hubungan keluarga borjuasi; kerja industri modern, penundukan modern di bawah kapital, yang sama saja baik di Inggris maupun di Perancis, di Amerika maupun di Jerman, telah menghilangkan segala bekas watak nasional daripadanya. Undang-undang moral, agama, baginya adalah sama dengan segala prasangka borjuis, yang di belakangnya bersembunyi segala macam kepentingan- kepentingan borjuis.
Semua kelas terdahulu yang memperoleh kekuasaan, berusaha memperkuat kedudukan yang telah diperolehnya dengan menundukkan masyarakat dalam keseluruhannya kepada syarat-syarat pemilikan mereka. Kaum proletar tidak dapat menjadi tuan atas tenaga-tenaga produktif dalam masyarakat, kecuali dengan menghapuskan cara pemilikan mereka sendiri yang terdahulu atas tenaga-tenaga produktif, dan dengan begitu menghapuskan juga segala cara pemilikan lain yang terdahulu. Mereka tidak mempunyai sesuatu pun yang harus dilindungi dan dipertahankan, tugas mereka ialah menghancurkan segala perlindungan dan jaminan yang terdahulu atas milik perseorangan.
Proletariat, lapisan yang paling rendah dari masyarakat kita sekarang, tidak dapat bergerak, tidak dapat mengangkat dirinya ke atas, tanpa hancur luluhnya seluruh lapisan atas dari masyarakat yang resmi.
Hingga kini, sebagaimana yang telah kita ketahui, segala bentuk masyarakat telah didasarkan atas antagonisme antara kelas-kelas yang menindas dengan kelas-kelas yang tertindas. Tetapi untuk dapat menindas suatu kelas, haruslah dijamin syarat-syarat tertentu untuknya di mana ia setidak-tidaknya dapat melanjutkan hidupnya sebagai budak. Si hamba, dalam zaman perhambaan, meningkatkan dirinya menjadi anggota komune, seperti juga halnya dengan si borjuis kecil, di bawah tindakan absolutisme feodal, mengembangkan dirinya menjadi borjuis. Sebaliknya, buruh modern bukannya terangkat naik dengan adanya kemajuan industri, tetapi bahkan senantiasa makin jatuh merosot di bawah syarat-syarat hidup kelasnya sendiri. Ia menjadi orang melarat dan kemelaratan berkembang lebih cepat daripada penduduk dan kekayaan. Seandainya pun seorang proletar ingin memberbaiki kesejahteraannya (meskipun masturbatif) , para borjuis memiliki syarat-syarat dan aturan-aturan positif dan numerik, seperti halnya sertifikat kelulusan sekolah formal, tes toefl, tes GRA, dll. Einstein mengatakan bahwa “Dalam hidup sekompleks ini, kita tidak mungkin memakai observasi empiris dari konsepsi-konsepsi matematis�. Dengan demikian Einstein telah menggugurkan keabsahan segala perangkat pengukuran diri guna menaikkan martabat itu. Di sinilah menjadi terang, bahwa borjuasi tidak pada tempatnya lagi untuk menjadi kelas yang berkuasa di dalam masyarakat, dan tidak mampu lagi untuk memaksakan syarat-syarat hidupnya kepada masyarakat sebagai prinsip yang menentukan. Ia tidak cakap memerintah karena ia tidak mampu menjamin penghidupan bagi budaknya di dalam rangka perbudakannya itu, karena ia terpaksa membiarkan budaknya tenggelam ke dalam keadaan yang sedemikian rupa sehingga ia harus memberi makan kepada budaknya, dan bukannya ia diberi makan oleh budaknya. Masyarakat tidak dapat lagi hidup di bawah borjuasi ini, dengan perkataan lain, adanya borjuasi tidak dapat didamaikan lagi dengan masyarakat.
Syarat terpokok untuk hidupnya dan berkuasanya kelas borjuis, adalah terbentuknya dan bertambah besarnya kapital; syarat untuk kapital ialah kerja-upahan. Kerja-upahan semata-mata bersandar pada persaingan di antara kaum buruh sendiri. Kemajuan industri, yang pendorongnya dengan tak sengaja adalah borjuasi, menggantikan terpencilnya kaum buruh, yang disebabkan oleh persaingan, dengan tergabungnya mereka secara revolusioner, yang diperoleh karena perserikatan. Perkembangan industri besar, karenanya, merenggut dari bawah kaki borjuasi landasan itu sendiri yang di atasnya borjuasi menghasilkan dan memiliki hasil-hasil. Para ekonom Marx melihat bahwa borjuasi lewat kapitalisme mengandung kontradiksi- kontradiksi internal yang selanjutnya akan menentukan kehancurannya. Oleh sebab itu, apa yang dihasilkan oleh borjuasi ialah, terutama sekali, penggali-penggali liang kuburnya sendiri.
Until this moment, I never understood how hard it was to lose something I never had.
- Wawan Pattipo -
Ditjoeplik dari milist-nja toekang-soenting dengen djoedoel aseli “Catatan Akhir”
dipersembahken sebahagai prasasti bliaoe iang henda’ menempoeh djalan laen.
Writing Quadrant
Teman-teman yang sekarang lagi sedang berkutat pada naskah-naskah dan sedang mengejar deadline buku-buku kurikulum 2006 pasti tahu Cashflow Quadrant-nya Robert T. Kiyosaki. Lewat empat kwadran “intimidatifnya” , CQ telah memanas-manasi orang untuk berbisnis, bukan menjadi pegawai negeri (sipil, polisi, tentara), BUMN, BUMD atau swasta. Minimal berbisnis dalam ujud Self-employed (SE) jika belum mampu menjadi Business Owner (BO). Lambat laun SE mungkin saja berubah menjadi BO dan akhirnya menjadi Investor.
Tanpa minta izin kepadanya saya pinjam nama-nama kwadran dalam CQ tersebut untuk digunakan dalam kepenulisan. Seperti Kiyosaki yang yakin setiap orang pasti berada pada minimal satu kwadran arus kasnya, saya pun yakin setiap orang yang berkecimpung dalam
dunia tulis-menulis minimal bermukim dalam satu Writing Quadrant (WQ). Setiap kwadran dalam Kwadran Kepenulisan itu mampu mencetak penulis sukses, baik secara produktivitas, nilai-manfaat maupun finansial.
Produktivitas mengacu pada jumlah tulisan yang dihasilkan; nilai-manfaat berhulu pada nilai guna secara moral; dan finansial berarti uang yang didapat (royalti dan/atau laba).
Sebelum masuk ke WQ ada satu catatan: dalam tulisan ini tak dibedakan mana yang author (pengarang) dan mana yang writer (penulis). Keduanya melebur dalam satu kata, yaitu “writer”. Yang pasti, keduanya menuangkan gagasan dalam ujud kata dan kalimat lewat tulisan tangan, mesin tik atau komputer.
Berikut adalah komponen kwadran dalam Writing Quadrant.
- Employee Writer (Penulis Pegawai). Populasi kwadran ini sangat banyak atau kebanyakan orang yang terlibat dalam tulis-menulis berada di kwadran ini. Penghuninya mulai dari sekretaris dan pegawai administratif di kantor-kantor pemerintah dan swasta. Mereka bertugas menulis surat, mengonsep proposal, atau sekadar menuliskan agenda dan notulen rapat. Mereka bekerja sesuai perintah atasannya sehingga tak terlalu banyak kreativitas yang dibutuhkan. Malah sering hanya mengedit dan sesekali mengubah atau menuangkan ide sendiri dalam tulisannya. Orang-orang di kwadran ini digaji atas semua yang ditulisnya. Yang pegawai kantor biasanya dibayar berupa gaji per bulan. Para editor dan penterjemah di perusahaan penerbitan termasuk kategori ini. Mereka lihai menulis dan mengedit, bahkan pakar di bidangnya, tapi tetap saja mengikuti suruhan atasannya atau timnya. Minimal tak bisa bebas sebebas kata hatinya. Tak banyak kreativitas yang berkembang di sini. Wartawan koran, majalah dan tabloid juga masuk ke kelompok Penulis Pegawai ini tapi mereka relatif lebih kreatif ketimbang yang bekerja sebagai sekretaris, administratif atau editor saja. Semua “jenis” penulis dalam kwadran ini dibayar lantaran menulis sesuatu, baik honor per order maupun gaji per bulan.
- Self-employed Writer (Penulis Lepas). Penulis artikel di media massa masuk grup ini. Mereka dapat uang atau honor setelah tulisannya dimuat atau setelah tuntas menulis artikel, naskah pidato dan lain-lain, atau kelar menulis naskah buku bagi seorang ghost-writer (penulis tandem). Orang yang membuka jasa tutorial dalam penulisan skripsi, tesis, disertasi dan laporan riset juga menjadi anggota kwadran ini. Honor yang diterimanya paralel dengan jumlah order tulisannya. Makin terkenal sebagai Penulis Lepas makin banyaklah ordernya, bahkan mampu memasang tarif per order tulisannya. Hanya saja makin tersita pula waktunya karena makin sibuk. Makin banyak uang berarti makin sedikit waktu untuk sekadar jalan-jalan santai. Semua waktunya dikerahkan untuk menulis demi memenuhi kewajiban ordernya. Orang-orang di kelompok ini kebanyakan bekerja sendiri, semuanya dikerjakan sendiri. Mereka sadar, tanpa menulis sama dengan tak punya uang.
- Business Owner Writer (Penulis Pebisnis). Pengisi kwadran ini menjalani semua lini penulisan, pencetakan, dan penerbitan. Dia termasuk kalangan penulis berjiwa pebisnis. Seratus persen sebagai penulis, juga 100% sebagai pebisnis. Produknya banyak dan variatif seperti artikel, reportase, proposal dan buku-buku bermutu sekaligus mampu menerbitkannya. Dan yang pasti, dia tidak bekerja sendiri tapi minimal ada satu atau dua orang yang membantunya. Ada orang yang digajinya untuk memperlancar proses penulisan, penerbitan dan penjualan produknya. “Kehebatannya”, dia bisa berjalan-jalan ke mana saja sambil terus menulis, lewat surat, fax, atau e-mail dia menyuruh editor dan tim lainnya mewujudkan tulisannya menjadi buku, reportase atau ujud lainnya. Bisnisnya tetap berputar sementara dia melanglang buana. Dia mampu menata tulisannya sekaligus mengelola pegawainya sehingga muncul tulisan, apapun jenis-ujudnya, yang mendatangkan laba buat perusahaan, gaji untuk pegawainya plus royalti bagi dirinya. Luar biasa orang yang duduk di kwadran ini. Dunia kepenulisan menyebutnya self-publisher, yaitu orang-orang yang mampu menulis dengan baik dan mampu pula memutar roda bisnis tulisannya. Hanya saja, dan ini faktanya, tak semua bos penerbitan mampu menulis. Banyak direktur penerbitan hanya berbekal modal mesin cetak atau modal uang saja tanpa mampu menulis. Ribuan buku orang lain dicetak dan/atau diterbitkannya tapi tak satu pun buku karyanya yang mengisi toko buku. Burukkah orang ini? Tentu saja TIDAK! Mereka betul-betul pebisnis dalam arti harfiah dan ini sesuai dengan jiwa entrepreneurship, kepebisnisan, atau kewirausahaan dari sudut pandang Kiyosaki. Dia adalah (calon) orang yang bebas finansial.
- Investor Writer (Penulis Investor). Inilah tahap akhir dari gradasi kepenulisan jika kita konsisten meminjam makna Cashflow Quadrant-nya Kiyosaki. Kita tak bakal mampu menduduki “singgasana” ini tanpa melewati kwadran Penulis Pebisnis dulu. Setelah berada di kwadran ini, orang sudah bisa bersantai-santai keliling daerah, keliling Indonesia, bahkan keliling dunia tanpa bekerja tapi justru bukunyalah yang bekerja untuknya. Dengan belasan atau puluhan buku yang ditulisnya apalagi kalau laris semua, dia sudah menjadi orang yang bebas finansial. “Uang bekerja untuk Anda!” kata Kiyosaki. Tapi di sini, “Buku bekerja untuk Anda!” Semua bukunya terus memberikan royalti setiap bulan, bahkan mungkin sampai ke anak cucunya atau ahli warisnya. Apalagi kalau dia terus menulis, misalnya menuliskan kisah-kisah unik perjalanan wisatanya maka dia bakal kian dikejar saja oleh uang atas penjualan buku-buku khasnya. Dialah suhu-guru para penulis.
Kalau demikian, di kwadran manakah kita termasuk saya sekarang berada?
Demikian dan semoga bermanfaat. Salam takzim.*
Diposting oleh Bowo, diambil dari milis toekang-soenting@yahoogroups.com